3 Anak Tangga

Mari naik anak tangga

Anak tangga yang pertama

 

Di situlah semua bermula, ketika mata dan lidah bertemu birahi

Beranak pinak, berlelehan, berkeringat dan mendesah

Kadang nikmat kadang petaka

Di balik-balik bak kacang goreng

Pecah di sana sini

Lahirlah dunia

 

Terlahir miskin atau kaya itu urusanmu

Jangan salahkan aku

Sebab di situ mata dan lidah bertemu birahi

 

Jika kau bosan ada di situ

Mari naik anak tangga

Anak tangga yang kedua

 

Di situ para padri berkumpul

Bercengkrama dengan buku-buku tebal

Berkacamata tebal dan perut dengan lemak tebal

Di situ dunia bagai catwalk

Sebab permainan warna dan balutan kain-kain  berdesak-desakan bagai ruang rapat

Penuh bulir-bulir sel otak

Pecah di sana-sini

Jadi mufakat

Jadilah dunia

Seragam dan menarik

Siapa betah boleh tinggal

Bercengkrama dengan para padri dan perancang busana

Di situ tak ada birahi sebab birahi tentu dilaknat dan diganjar batu tepat di tengkorak kepala

Siapa yang betah boleh tinggal

Bagi yang tidak ingin mengenakan seragam mari beranjak

 

Naik ke atas

Ke anak tangga yang ketiga

 

Di situ tak ada yang istimewa

Hanya ada  dua cermin

Yang satu memantulkan dirimu

Sementara yang lain entah memantulkan  kamu atau bukan,  itu masalahmu

Jangan salahkan aku

Sebab yang ada hanya cermin, dirimu dan keraguan

Dan itu sudah pasti

Jika kamu betah di situ kamu akan diejek sakit jiwa, sarkastik, tolol, narsis dan introvert

Jarang ada yang betah berada di situ

 

Namun jika kamu bosan,  silahkan kembali ke bawah

Ke anak tangga kedua atau pertama

Sebab maaf tak ada anak tangga yang berikut

 

03 November 2010

Iklan

Resolusi Molukka Hip Hop Community

Kepada rakyat jelata, para penemu syair dan melodi, para biduan, para musisi dari segala aliran, dari segala tanah dan dari segala lautan !

Dari keindahan bukit Karangpanjang Tanah Amboina, mari katong canangkan dari dalam rongga dada, mari angkat bendera tinggi-tinggi, mari kobarkan satu perjuangan, satu revolusi damai dari negeri ini untuk satu-satunya bumi yang sama-sama katong cintai.

Revolusi damai ini sudah sangat mendesak, supaya katong segera tiba di era damai, era baku-baku sayang dalam kemakmuran bersama. Sebab politik telah gagal merumuskan kebijakan publik, teori ekonomi telah gagal mengantar rakyat jelata kepada penghapusan kemiskinan dan kelestarian sumber daya alam, budaya hukum telah membukakan mata sang dewi keadilan, hak azasi manusia dicabik-cabik seperti burung gagak melahap dendeng-dendeng.

Maka marilah para seniman, mainkan perkusimu, petiklah gitarmu, dentingkan pianomu, geseklah biolamu, tabuhkan tifamu, nyanyikan puisimu, mainkan dengan nada-nada tinggi, nada-nada rendah, nada-nada minor, nada-nada falseto. Mainkan secara piawai, penuh gairah, penuh dinamika. Sebab dari sana akan lahir nada-nada harmoni, sebuah konser yang sangat jujur, konser yang benar, penuh keseimbangan.

Lantas dari atas pentas ini, para seniman akan kembali ke pentas kehidupan yang sebenarnya. Bawalah nada-nada yang jujur dan berani hidup harmoni dari atas panggung ke kehidupan konkrit. Tebarkan itu sebagai mutiara yang sangat indah.

Living As One, adalah tema universal sepanjang masa. Musik telah mempertemukan katong di pentas ini dan musik akan selalu selamanya mempertautkan katong dari berbagai warna suku, bangsa, agama, kelamin, dan pelbagai perbedaan. Katong punya bumi cuma ada satu, tapi bumi itu sedang kacau-balau, tidak karu-karuan. Tapi katong seng butuh seribu tentara. Katong membutuhkan sebanyak-banyaknya seniman, para penyair, para komponis, para musisi, para biduan. Republik-republik dan kerajaaan-kerajaan di atas jagat tidak butuh peluru, mortir, granat, meriam, senapan, senjata nuklir. Katong butuh stabilitas solmisasi, katong butuh gitar, drum, biola, tifa, piano, bass, celo, untuk merukunkan manusia dengan manusia.

Mari katong pulang kepada kehidupan yang asli, kehidupan seperti di Taman Eden yang damai. Mainkan musik dan puisi di segala waktu, di segala benua. Supaya kalau revolusi kesenian dan kebudayaan ini berhasil, katong semua akan menjadi bangsa yang tersenyum di dalam kemakmuran. Tapi kalau revolusi ini gagal, setidaknya katong telah menyumbangkan sekurang-kurangnya satu nada terindah untuk kemakmuran dan kedamaian di bumi.

Kalau malam ini, anda mendengar musik dari Molukka Hip-Hop Community, maka sesungguhnya revolusi itu telah dimulai.

Salam Perjuangan

Molukka Hip Hop Community

Dicetuskan di Ambon 10 Oktober 2010

KOTAK MUSIK. MUSIK DI DALAM KOTAK

Kota kita bukan kota musik. Kota kita adalah kotak musik. Ia bernyanyi, bersenandung di dalam kegelapan

Ambon adalah kota musik Indonesia. Jawaban ya atau tidak, itu terserah anda. Tapi bagi Karel Albert Ralahalu jawabannya adalah ya.

Inilah pernyataan Ralahalu di kediamannya ketika menjamu tamu-tamu yang akan memeriahkan festifal Ambon Jazz Plus 2009 di kota Ambon. Hadir pada malam itu sejumlah musisi dari berbagai belahan dunia. Michael Sembello (Amerika Serikat), Wilkins Ramirez (Puerto Rico), Massada (Belanda) dan Soul ID (Indonesia) serta beberapa musisi lokal.

Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada saya, maka jawabannya bukan ia atau tidak. Jawaban saya adalah apakah mungkin Ambon kota musik Indonesia? Saya tidak skeptis dalam hal ini. Tidak juga munafik. Ambon bukan kota musik. Ambon hanyalah kota. tanpa embel-embel musik di belakangnya.

Sebagai kota musik, Ambon –dan juga Ralahalu- harus belajar pada Ghent, Seville, Bologna ataupun Glasgow. Jika kalian bertanya mengapa, maka jawabannya adalah kota-kota tersebut  benar-benar kota musik. Kota-kota yang tidak hanya melahirkan pemusik dan karya-karya musik hebat sepanjang perjalanan sejarah meraka. Kota-kota tersebut juga bertanggung jawab atas kelahiran dan pertumbuhan musik di tanah mereka sendiri.

Sebutlah Ghent sebagai sebuah kota kecil di Belgia yang bahkan tidak terlalu menonjol dibandingkan kota-kota Belgia lainnya. Tahun lalu Ghent dinobatkan oleh UNESCO sebagai kota musik dunia. Ghent pantas berbangga dengan pencapaian ini. Bayangkan saja kota yang penduduknya lebih sedikit dari Ambon ini memiliki begitu banyak infrastruktur penunjang bagi pertumbuhan industri-industri musik. Lusinan concert hall ada di sana. Belum lagi sejumlah konsorsium-konsorsium musik, pusat-pusat pendikan yang memberikan muatan-muatan khusus pada dunia musik, ruang-ruang kreasi yang tak terhitung jumlahnya, serta yang tak kalah penting kota ini memberikan dukungan penuh terhadap karya-karya musik yang lahir dari pemusik yang ada. Bukti nyatanya adalah apresiasi yang ditunjukan pada Festival of Flander yang dimeriahkan oleh musisi-musisi dari berbagai genre.

Di atas adalah Ghent dan saya tidak perlu untuk meyebutkan kota-kota musik lainya seperti Seville, Bologna atau Glasgow. Saya yakin kota-kota tersebut akan cukup membuat kita iri jika kota Ambon sebagai kota musik pada akhirnya akan saya perbandingkan di sini. Saya tidak ingin membandingkan Ambon dengan kota-kota di atas. Sebab sudah saya  sebutkan bahwa Ambon hanyalah kota, tanpa embel-embel apapun di belakangnya.

Sebenarnya kita bisa seperti Ghent dan yang lain. Yang kita butuhkan sekarang adalah lebih keras berusaha. Lebih banyak berlajar, dan berhenti menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting.

Saya melihat di Ambon ada begitu banyak orang-orang muda yang berbakat. Saya tidak berbohong. Hampir setiap minggu kalian juga melihatnya. Coba bayangkan, apa yang dapat kita lakukan dengan begitu banyak orang-orang muda –yang berlatih dengan serius 2 kali seminggu atau bahkan lebih-  yang terlibat dalam group-group vokal dan paduan suara di gereja. Kalian juga tahu bahwa di Ambon kita memilki bagitu banyak orang-orang yang dapat memaikan alat-alat musik baik yang profesional atau bahakan amatir. Paduan-paduan suling dan trumpet yang setiap minggu kita saksikan telah cukup banyak membenarkan pernyataan saya bukan?

Ada sekian banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan. Kita hanya butuh kerja keras. Latihan 2 kali seminggu untuk pentas di gereja tidaklah cukup. Kalian butuh seseuatu yang lebih. Berlatih yang lebih keras bukan hanya untuk tampil di geraja saja.

Saya mengatakan berlatih lebih keras. Ini berarti juga belajar lebih banyak dari apa yang yang sudah diketahui. Mari bersikap seperti orang bodoh. Sebagai penyayi dan pemain musik yang tidak tahu apa-apa. Belajarlah lebih banyak. Dengarkan semua musik yang dapat kalian dengar. Itulah buku-buku pelajaran kalian. Belajarlah bab demi bab. Hafalkan setaiap noktah, maknai tiap irama. Renungkan siang dan malam. Sebab kita semua tidak ingin berakhir hanya di balkon gereja atau pentas-pentas ketika hari-hari besar gerejawi dilakukan. Saya bicara tentang sebuah hal yang besar yang dapat kita capai jika kita belajar lebih banyak. Mari melompat ke level yang lebih tinggi. Saya tahu kalian punya mimpi akan hal-hal baik dan luar biasa. Wujudkan itu dan jangan kerdilkan mimpi kalian.

Apa yang saya sayangkan dari Ambon yaitu kita terlalu banyak menghabiskan energi –juga uang- untuk hal yang tidak terlalu penting dan mendesak. Saya mengenal banyak orang-orang muda yang memiliki bakat bermusik namun hanya berjalan di tempat. Hanya karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang sama sekali tidak bersentuhan dengan musik. Contoh sederhannya adalah hampir semua orang-orang muda di Ambon dengan jenjang umur 15-25 tahun memiliki akun Facebook dan paling sedikit menghabiskan 30-60 menit –atau bahkan lebih- di depan layar monitor di cafe-café internet. Dan apa yang dilakukan adalah waktu tersebut hanya dihabiskan dengan Facebook dan hal-hal remeh-temeh lainnya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika setengah saja dari waktu mereka digunakan untuk berselancar di situs-situs musik yang memberikan pelajaran gratis tentang bagaimana membuat musik yang bagus atau mendaptkan sound yang baik dengan proses mixing yang sempurna atau memperkaya pengetahuan dengan mendengar referensi musik yang hebat dari segala penjuru dunia. Inilah faktanya. Terlalu banyak energi dan uang yang dibuang untuk hal yang tidak tepat.

Satu lagi yang saya sayangkan dari kota Ambon adalah pemborosan sejumlah uang dengan nominal besar hanya untuk sebuah institusi Taman Budaya yang perannya tidak bagitu signifikan. Baru-baru ini Taman Budaya Ambon melakukan pertunjukan kebudayaan di negeri kincir angin Belanda. Puluhan orang termasuk pemain musik, penari dan official berbondong-bondong ke sana. Berapa banya uang yang dihabiskan di sana? Saya tidak tahu. Saya tidak iri . Tidak juga menulis karena sakit hati. Saya hanya marah. Marah terhadap Taman Budaya dan juga pemerintah.

Taman Budaya telah menjadi sebuah –katakanlah sebagai- menara gading di puncak Karang Panjang sana. Sebab yang terlihat hanyalah gedung yang sunyi. Ambon sunyi sebab Taman Budaya juga sunyi. Mereka tidak bernyanyi lagi. Mereka sudah berhenti melahirkan karya-karya. Gedung-gedung itu seharusnya menjadi pusat ruang-ruang kreatif tanah ini. Lumbung orang-orang gila yang kreatif. Sekarang yang ada hanya gedung-gedung yang terisi orang-orang gila. Kreatifitasnya entah lari ke mana.

Anehnya, pemerintah tetap saja mengalirkan uang mereka ke sana. Ke gedung-gedung dan orang-orang yang sudah impoten. Padahal jika mereka sempat melihat ke luar tentu mereka akan menyesal telah membuang uang begitu banyak dengan hasil yang berbanding terbalik.

Di luar ada begitu banyak bakat dari orang-orang muda yang siap menjadi gila dan kreatif. Anak-anak di gereja seperti yang saya contohkan di atas misalnya. Jika pemernitah kita serius menjadikan Ambon sebagi kota musik, kenapa bakat-bakat di atas tidak diperhitungkan? Atau jika mereka jeli melihat pertumbuhan seniman-seniman muda dan komunitas-komunitas musik, sastra, teater, dll yang menjamur balakangan ini, tentu mereka akan kaget dan menyesal.

Kenyataannya tentu berbeda jika pemerintah mau serius. Keseriusan yang sama ketika menetapkan Ambon sebagai kota musik juga harus diikuti dengan kseriusan memperhatikan perkembangan musik dan ruang-ruang kreatif yang semakin banyak bertumbuh. Oleh sebab itu mulai dari sekarang berhentilah membuang uang dan energi untuk hal yang tidak kelihatan manfaatnya. Jika Ralahalu mengatakan bahwa Ambon kota musik, maka marilah bersikap serius dengan hal ini. Ciptakanlah ruang-ruang kreatif, apresiasilah karya-karya orang-orang muda Ambon, bangun infrastruktur yang menunjang dan merangsang pertumbuhan seniman-seniman muda. Seriuslah dalam hal ini. Itu saja. Ide sederhana namun punya dampak yang baik.

Sejujurnya, saya bangga dengan seniman-seniman muda di kota Ambon. Mereka tumbuh tanpa bantuan dari pemerintah yang seharusnya menjadi orang tua untuk mengawal dan mendukung pertumbuhan mereka. Seniman-seniman muda tetap bersemangat dengan apa yang mereka miliki, walaupun sangat minim. Saya bangga dengan filosofi yang mendasari semangat mereka berkaya. Memaksimalkan yang minim. Luar biasa, Semangat yang baik untuk sebuah perubahan.

Ambon, 13 Juli 2010

Untuk Seorang Ayah yang Bukan Ayahku

Pagi pagi sudah kopi
Denting-denting sendok beradu dengan gelas
Pagi pagi tembakau
Bercerita, tertawa, bergurau

Kisahmu panjang pak tua
Lebih setengah abad
Aku takluk
Untuk yang pertama kali
Di gelas-gelas tuak
panjang berdebat

Butir-butir embun
Butir-butir telur ayam
Butir-butir teduh tersenyum
Butir-butir air mata
Butir-butir malam

Bunyi kayu-kayu
Bunyi babi hutan yang kau tombak
Bunyi-bunyi itu
Bedebah aku
Apakah aku onak?

Hari ini penuh coklat pak tua
Penuh
Sangat penuh

Aku larut dalam pahit
Segelas kopi pahit masih mengepul
Terasa manis
Teramat manis dari apapun yang pernah kurasa

Bunyi kayu-kayu
Butir-butir malam
Di gelas-gelas tuak
Aku teringat rumah

14 Juni 2010

Setelah Badai Pergi – Harapan dari Maluku

Manusia Maluku di akhir abad 20 adalah saksi hidup sejarah teror, labirin kekerasan dan kegilaan massal paling parah. Januari 1999, awal kisah dari bab penuh pertumpahan darah.

Bumi Maluku berubah pekat oleh asap mesiu, bangunan terbakar. Nyanyian-nyanyian merdu, kapata, pantun-pantun indah telah berubah menjadi jerit tangis. Senapan tak berhenti berbunyi. Dentuman bom dan sirine menjadi simfoni. Menggantikan syair-syair indah dengan nada kematian.

Bumi Maluku, negeri datu-datu. Hunian raja-raja. Seribu pulau, seribu kampung. Seribu kepentingan. Seribu kedaulatan. Tanah yang penuh dengan lintasan kekekrasan. Kami belajar banyak progresi sejarah. Masa lampau menuju kekinian. Kampung lawan kampung. Suku lawan suku. Dan yang paling dramatis, agama lawan agama.

Sejenak manusia Maluku lupa akan adat. Lupa pada sumpah datu-datu. Amnesia pada sejarahnya sendiri. Sebuah law and order klasik yang disebut pela perlahan terkikis oleh kebencian. Luntur oleh konspirasi dan politisasi agama. Manusia Maluku hilang pegangan. Membantai saudaranya sendiri. Membakar rumah ibadah karib atau bahkan kerabat dekatnya.

Kerusuhan Maluku. Inilah wajah teror itu. Bencana kemanusiaan. Tragedi bentruan politik agama yang penuh kepentingan. Entah milik siapa.

Setelah Badai Pergi adalah rekaman fragmen-fragmen dari tiga orang manusia Maluku yang sudah berkaca pada panjangnya perjalanan tahun 1999. Anak-anak yang besar di tengah-tengah kemelut kerusuhan. Tertatih keluar dari labirin pandora. Berhasil merangkak. Menemukan harapan.

Setiap baris kalimat dalam lagu ini adalah rekaman ingatan. Sebab meraka menyaksikan langsung tragedi ketika Maluku haus darah. Mata mereka menyaksikan orang dibantai di jalan-jalan. Mereka mencecap aroma asap mesiu, menemukan salib patah, Al Quran yang terbakar. Serta mendapati diri meraka sendiri terbakar oleh amarah dan dendam.

Maluku yang berkonflik adalah Maluku yang diselubungi dendam. Dipekatkan oleh kabut kemarahan. Dirundung oleh kebencian terhadap saudaranya sendiri. Oleh sebab agama, politik, kepentingan dan uang. Inilah wajah Maluku dalam fragmen itu. Dalam lagu mereka.

Pada akhir dari setiap fragmen mereka memberikan harapan. Menitipkan pesan untuk semua orang. Untuk anak cucu meraka. Mewariskan sebuah rekaman perjalanan. Lembar-lembar pelajaran sebagai batu peringatan. Kelak semua manusia Maluku dapat meneruskan pesan itu pada setiap keturunan mereka.

Badai itu pernah datang ke tanah ini. Namun ia sudah pergi. Di langit-langit dapat ditemukan benang-benang raja, pelangi harapan. Sebab badai sudah berlalu.

Ambon, 14 Juni 2010

Tentang Republik Sepenggal Kisah dari Sageru

Republik kami adalah republik kosong. Jika ia layaknya buku, maka ia miskin lembar.

Sebuah lagu adalah juga sebuah cerita. Kisah dari pergulatan hidup si pengarang. Memori yang direkam dalam ruang-ruang isi kepala. Ditumpahkan sebagai suara-suara yang indah dalam sebuah lagu.

Pergulatan batin, perenungan dan tindakan menciptakan lagu adalah bentuk ekspresi. Suatu realitas dari dunia yang ingin ditampilkan dari sisi yang lain. Musik.

Tentang Republik ialah bentuk ekspresi itu. Ekspresi kami yang sakit hati ketika berjumpa dengan dunia sekitar yang membuat kami terluka. Lingkungan yang tak lagi ramah pada toleransi, ketulusan dan kejujuran. Bentuk frustasi pada sistim yang mengerdilkan bahkan membunuh perangkatnya sendiri. Marah pada republik sudah yang hilang rasa.

Sebuah republik adalah tatanan teratur. Dibentengi oleh pagar-pagar aturan dan perundang-undangan. Tangan-tangan tak terlihat yang menghalau agar penghuninya tak hilang arah, jatuh dalam jurang dan mati.

Tapi hari ini, kita benar-benar berada dalam sebuah tatanan kosong. Republik yang tak terisi.  Para regulator telah berkhianat. Membelot, melanggar sumpah, menjadi koruptor. Pemimpin menjadi buta, menikam mata sendiri. Menjadi tuli dengan sukarela.

Kondisi ini membuat republik hilang arah. Menjadi kosong. Sebab para pemimpin bertarung dengan ambisinya masing-masing. Mencederai yang lain. Berkelahi hingga tak ada yang tercapai. Tak ada pemenang, semua kehilangan.

Manipulasi dan janji manis dari para hipokrit setiap hari menghiasi layar-layar televisi. Semakin menjadi-jadi. Namun janji tetaplah janji. Rakyat menuntut dan dibohongi. Mari berkaca pada sekitar. Hari ini Situbondo masih berkubang lumpur, KPK penuh polemik, kasus Bank Century, perseteruan Cicak vs Buaya, Susno Duadji adalah sebagian dari potret republik ini.

Maka kami bersuara. Lewat musik, lewat lagu.

Tentang Republik menampilkan perlawanan kami. Perlawanan rakyat yang bosan hidup dalam tipu daya dari para bajingan tengik. Kami pemarah, kami pemberang. Kami bertindak sebab kami harus melawan demi seseuatu ketimbang diam dan tidak mendapat apa-apa.

Jika hari ini anda merasakan seperti apa yang kami rasa, maka mari bersama-sama berteriak.
“Ini republik kosong tanpa tanda tanya!”.

Ambon, 12 Juni 2010

Tentang Manusia

Aku membentukmu dalam kepala

Mengandaikan monalisa, membentuk bibirmu dari

Ave Maria.

Seperti bilal kurajut lekuk pinggulmu

Dan senyum orang kampung ketika menikmati musim panen adalah sepasang matamu

Aku tak suka keteraturan, namun engkau kubuat teratur

Dan aku berdosa

Aku membentukmu dalam kepala

Sebab aku tak melihat

Di luar gelap, jahat, sakit, kemudian renta dan mati

Mari denganku berlindung dalam urat syaraf

Terbang dengan sayap yang dapat kau buat sesukamu

Jatuh dalam manis

Tak ada manusia yang tak punya rumah

Sebab mereka gemar untuk kembali.

Selalu ingin kembali

Yang nampak di ujung jalan hanya sederhana

tak ada pesta atau gempita

Di sana ada damai, dan ia berkilauan

Terang

Sangat terang

12 April 2010